Select Menu

clean-5

Wisata

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» » » Hakikat Konflik, Sudahkah Terungkap Sekarang!?

Warga pendudukan Israel melakukan kerusakan di muka bumi. Mereka merusak pohon, tanaman, keturunan, menyita rumah dan membakar masjid dan mushaf Al-Quran. Rabi Israel dan bapak spiritual partai ekstrim Aovadia Yosep beberapa saat lalu mengeluarkan statemen melecehkan semua manusia dari bangsa dan etnis manapun. Ketika itu ia bicara bahwa tuhan - dalam pandangannya – hanya milik yahudi, bukan milik manusia lainnya. Manusia di sekeliling yahudi tanpa membedakan Arab, non Arab, Barbar, Amerika dan barat adalah binatang ternak dalam wujud manusia yang diciptakan untuk melayani yahudi. Sehingga sah bila mereka digunakan sebagai tameng manusia untuk menjaga serdadu yahudi.
Zionis berinovasi dengan ideologi baru yang khas dengan demokrasi gayanya sebagai entitas. Kemudian ia meminta kepada Palestina, Arab dan dunia untuk mengakuinya sebagai Negara yahudi dengan kekhususan etnis, rasis dan kelompoknya.
Belakangan, sejak barat mendirikannya dengan segala fasilititas yang diberikan, Israel mengumumkan dirinya memiliki reactor nuklir. Kemudian menyatakan dengan penuh pongah bahwa nuklir itu bukan untuk tujuan damai atau penelitian dan pengembangan namun untuk tujuan militer. Bahkan ia siap menghadapi dunia dari Korea hingga Iran.
Sementara Amerika menyatakan bahwa Sudah selatan sudah dipastikan melakukan referendum (disintegrasi) meski dengan kekuatan.
Belakangan lagi dokumen resmi militer dan keamanan resmi diungkap oleh situs Wikileaks. 400 ribu dokumen itu mengungkap skandal tersembunyi kejahatan Amerika dan barat di Irak dan para agennya (juru kebebasan) yang hidup di pangkuan Amerika dan barat. Dokumen itu menelanjangi mereka dari gelar kebesaran, pemimpin, nasionalise, guru besar karena menggelar aksi pembunuhan, penghancuran, pembantaian dan pemerkosaan yang bertentangan dengan semua undang-undang dan piagam kemanusiaan. Sementara di sisi lain, tingkat kepedulian terhadap masalah Palestina dari media Arab dan politik menurun. Sementara Otoritas Palestina secara mentah menerapkan 14 pasal Peta Jalan Damai yang dibuat Tim Kuartet dengan harapan penuh 'keikhlasan' kepada Amerika untuk bisa menekan Israel menerapkan 14 pasal sebaliknya. Namun tak ada satupun pasal yang diterapkan Israel sejak 16 tahun sejak pasal-pasal itu dibuat Tim Kuartet Internasional. Meski demikian, koordinasi keamanan dan kerjasama antara otoritas Palestina (pimpinan Abbas) dan Israel terus berlanjut mengejar perlawanan, memblokade Gaza, yang didukung sebagian Negara Arab dan dilanjutkan dengan perundingan.
Dari realitas di atas bisa disimpulkan.
1.       Klaim peradaban dan budaya demokrasi barat tidak seperti yang diimpikan oleh orang-orang yang cekak pengetahuan dari kalangan intelek kita. ternyata berbeda antara demokrasi dalam teori dan praktik. Beda penerapannya di barat untuk barat, dan di barat untuk timur (Arab dan dunia Islam). Artinya, dalam menghadapi pemikiran Islam, gagasan Syura, menghormati pendapat dan kebebasan, kesamaan suara, barat lihai dalam berteori soal demokrasi. Namun barat tidak bisa memberikan contoh. Akhirnya mereka juga menganulir perbedaan jender, warna kulit dan tingkat pendidikan, ekonomi di barat itu sendiri. Lihat misalnya, apakah jumlah perempuan di pucuk pimpinan dan cabinet di barat seimbang dengan jumlah yang diwakilinya?
Bagaiman barat memperlakukan kita dalam masalah-masalah yang terkait dengan kepentingan mereka atau bukan kepentingan mereka? Di satu sisi mereka ngotot soal disintegrasi di Selatan Sudan, tapi pada saat yang sama mereka tidak menghormati Sudan itu sendiri.
2.       Sejumlah realitas terungkap bahwa konflik di kawasan kita memiliki empat ciri; pertama, hubungan barat dan kita adalah kontradiksi dan hubungan konflik. Artinya, barat selalu menjadi hakim. Sementara di kalangan warga sipil barat lebih banyak dipengaruhi pikiran oleh media yang dikuasai lobi zionis. Tentu masih orang baik-baik seperti George Gollawau pahlawan kapal-kapal penembus dan kebebasan blockade Gaza atau sebagian aleg-aleg di parlemen, jurnalis dan intelek barat. Kedua, konflik itu hampir hilang dari kesadaran kita, namun semakin kuat kesadaran konflik itu di pihak musuh kita. Entah karena rayuan waham perdamaian atau pembenaran dalam menggelar kejahatan. Misalnya, dokumen yang digelar Wikileaks, dinilai oleh sebagian pemikir kita sebagai upaya konspirasi membidik Nuri Maliki.
Ketiga, di mata lawan kita, konflik itu dianggap sebagai konflik agama dan eksistensi (karena perbedaan dan fanatisme) serta persiapan untuk menghadapi perang Armagedon dimana jutaan dari kita akan terbunuh; seperti kata mitos Taurat dan para pendahulu Amerika seperti Bush dan Reigen. Anehnya, justru kita umat Islam dan Arab seakan haram – dalam konfrontasi ini – menyebut-nyebut agama kita.
Lihat bagaimana rabi-rabi yahudi menjadi pemimpin di negeri mereka, kita lihat bagaimana barat melakukan kekerasan dan perusakan terhadap menara-menara Islam, hijab wanita muslimah, Nabi Islam Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam, bagaimana Angelia Mircel, presiden Jerman memberikan penghargaan kepada kartunis Denmark yang menistakan Rasulullah.  
Cirri keempat, ini adalah konflik abadi bagi kita dan bagi mereka. Konflik itu hanya berakhir jika salah satu kelompok kalah dan meninggalkan daerah konfrontasi. Jika Jerusalem (Al-Quds Terjajah) dianggap musuh sebagai "garis merah" maka bagi kita juga demikian, demikian juga Palestina. Sayangnya justru di antara kita mengira perundingan menjadi solusi, padahal sejak Israel berdiri selama puluhan tahun, pengalaman pahit kita dengan perundingan tidak pernah memberikan pelajaran.
3.       Realita lain, umat Islam ini mampu mewujudkan kemenangan dan siap melakukannya. Gaza dan Hamas adalah contoh, demikian juga Libanon dan perlawanan Islam di sana, juga perlawanan Irak, Afganistan dan Somalia. Hanya saja, keberhasilan perlawanan dalam mewujudkan kemenangan atau capaian penting terkait erat dengan "eksistensi masyarakat yang melindungi perlawanan dan membelanya". Bukan kebetulan jika sejumlah kemenangan perlawana terwujud padahal tidak ada Negara sentral yang kuat. Ini menegaskan, perimbangan kekuatan perlawanan dan gerakan pembebasan tidak selalu berbarengan dengan adanya Negara resmi.
Ini yang harus dipahami. Akhirnya, jika sudah banyak fakta dan data terkuat soal konflik ini, barangkali kita perlu berusaha untuk meyakinkan lagi kepada khalayak bahwa bahwa fakta itu ada. Apakah kita sadar atas realitas dan fakta konflik itu yang ada di sekitar kita?? (bn-bsyr)
Adnan Salim Abu Halil
Sumber/infopalestina.com

About Tarqiyah Online

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama